Ini dari pengagum rahasia, kepada dia yang selalu memunculkan kembang api di perut.
Persetan soal kupu-kupu, ngomong-ngomong. Satu pandangan berarti satu letupan kembang api. Satu senyuman berarti langit yang meledak berwarna-warni. Tahukah? Sayap kupu-kupu akan mudah patah, tapi hanya waktu yang dapat menghapus jejak kembang api di langit.
Maka, ulangi:
Ini dari seorang pengagum rahasia, kepada dia yang selalu dibicarakan dengan tanda kutip.
Ini ditulis ketika pengagum rahasia itu sudah lelah dengan endless scrolling timeline twitter, sudah sampai pada halaman terakhir dari blog, messages di FB sudah menyerah untuk bisa dimuat-ulang lebih jauh, dan pesan-pesan di inbox sudah mencapai tanggal paling tua yang bisa dicapai. Ini ditulis ketika jemari pun mulai berteriak lelah, tapi hati masih setia dengan seribu-satu kesahnya.
Kamu bisa menemukan beberapa tanda tanya, lebih banyak tanda tiitk, dan koma yang seolah tidak terhitung jumlahnya ditulisan ini. Sungguhan, sebab, ini, semua, adalah, mengenai, perasaan, si pengagum, itu.
Kenapa koma, bila ada yang berpenasaran? Lantas akan dijawab bahwa koma mewakili deru nafas yang akan tercipta saat si pengagum rahasia bertemu Si Dia.
Putus-putus.
Sedikit-sedikit tergeragap.
Menganggap tali sepatu lebih menawan dibandingkan sepasang alis tegas itu, atau sorot mata yang teduh.
Manis, ya? Tulisan ini didedikasikan secara khusus dari si pengagum rahasia kepada dia yang selalu memenuhi mimpi saban malam, dan citraannya manis. Manis; semanis… sachertorte. Semanis poffertjes yang disaluti gula bubuk banyak-banyak dan dikucuri sirup stroberi.
“Semanis waktu saat kamu menjadi yang pertama kali mengawali komunikasi.”
SMS. Chat di YM. Mention di twitter. Atau, yang paling baik dari segalanya; sebuah ‘halo’ yang nyata.
Padahal untuk balas mengungkapkan pun terhalang segala-gala: malu, perasaan takut bila tidak digubris, adanya sesuatu yang menahan lisan dari mengatakan hal yang sejujurnya, sampai tendensi masokis berkedok ‘ah, lebih baik mencintai begini saja’. Padahal lelaki itu sudah berbaik hati mengawali hari dengan gembira.
Lalu, dikemanakan?
Dikemanakan ucapan terima kasih, dan keinginan untuk membalas itu?
Dikemanakan?
Haruskah disembunyikan di balik tingkah (sok) kasual, wajah (sok) lempeng, senyum (sok) ringan?
Kenapa tidak mengaku saja bahwa, pengagum rahasia itu memang sedang sungguhan jatuh cinta? Dan orang jatuh cinta, kata mereka, amat beragam keinginannya.
Tetapi di akhir, ada sesuatu yang tak kasatmata dan menahan kejujuran itu dari meloncat selepas bibir.
Jadilah, terpendam ia—senyata-nyata rasa, sejujur-jujur kasih—sampai satu, dua hari, tiga minggu, melompati empat bulan, lima, enam…
Pengagum rahasia menulis ini dengan bertahan pada suatu tanggal:
Sebab setelah lewat masa tiga tahun menyayangi, pun belum pernah sekali pun ia mengakui. Kode tidak dianggap, ya, Sayang. Lelaki bukan cenayang yang menghabiskan waktu untuk menerka-nerka. Kentara, sampai sekarang hubungan masih saja bertahan di zona aman-nyaman-teman.
Kenapa, pengagum rahasia itu pun bertanya pada diri sendiri.
Namun angin malam toh masih sama kesepian sehingga jawaban itu tak kunjung tiba padahal perasaan,
masih nekat mencinta.
stop being everything that surround me, and something that hurts me.
This is what I know:
when the clock struck zero you were alert
and trying to touch the underside of my heartbeat.
I let you peak, but I said,
“dry up before you touch me”
and my stomach was racing yours
into the freefall.This is what I was told:
when a poet says he loves you,
he can’t mean it.




